Direktorat Standardisasi Produk Pangan

Berita

legal drafting dspp

Pada tanggal 18, 19 dan 26 Agustus 2016 Direktorat Standardisasi Produk Pangan telah melaksanakan “Pelatihan Perancangan Peraturan Perundang-Undangan” (Legislative Drafting Training). Pelatihan seperti tersebut diatas dilaksanakan bekerja sama dengan Jimly School of Law and Government  (JSLG) yang merupakan lembaga nirlaba yang didirikan oleh Prof. Dr. Jimly  Asshiddiqie, S.H. yang bergerak di bidang pendidikan/pelatihan terkait bidang hukum dan pemerintahan.

Pelatihan ini diselenggarakan dalam upaya peningkatan, penguatan fungsi dan kelembagaan melalui peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia di bidang perancangan peraturan perundang-undangan terutama bagi SDM pada Direktorat Standardisasi Produk Pangan dalam meningkatkan kemampuan dalam merencanakan, menyusun, dan membahas serta mereview peraturan perundang-undangan sesuai dengan tugas dan fungsi Direktorat Standardisasi Produk Pangan.

Read more: Pelatihan Perancangan Peraturan Perundang-Undangan

Pada tanggal 4 dan 5  Agustus 2016 Direktorat Standardisasi Produk Pangan telah melaksanakan “In House Training on Risk Management. Pelatihan seperti tersebut diatas dilaksanakan bekerja sama dengan lembaga pelatihan  Mandiri Consultant dengan  fasilitator pelatihan adalah Ir Faizal Safa, MSc

Pelatihan ini diselenggarakan dalam upaya peningkatan, penguatan fungsi dan kelembagaan melalui peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia di bidang penyusunan standar dan peraturan di bidang pangan. Dalam pelatihan ini dipelajari tentang strategi manajemen risiko dilihat dari tugas dan fungsi Badan POM umumnya dan Direktorat Standardisasi Produk Pangan khususnya dilihat dari berbagai segi yang mungkin menimbulkan risiko-risiko.

Dalam pelatihan ini juga dilakukan praktek mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang dapat mempengaruhi visi atau tujuan Badan POM  yang timbul dari seluruh kegiatan penyusunan standar dan peraturan di bidang pangan.

Read more: In House Training on Risk Management

APLIKASI AYO CEK GIZI PANGAN JAJANAN ANAK SEKOLAH (PJAS)

Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) dan anak sekolah merupakan hal yang sulit dipisahkan. Kebiasaan jajan pada anak sudah menjadi kebiasaan umum dan ditemui di berbagai tingkat sosial ekonomi masyarakat. PJAS merupakan makanan yang banyak dikonsumsi oleh anak-anak usia sekolah, sehingga mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah setiap harinya. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai kandungan gizi PJAS diperlukan untuk mengetahui jumlah asupan gizi dari PJAS maupun untuk merencanakan jenis PJAS yang akan dikonsumsi.

Badan POM telah menyusun buku Informasi Kandungan Gizi dalam PJAS, yang memuat kandungan energi, zat gizi berbagai jenis PJAS. Nilai zat gizi yang tercantum bukan merupakan angka mutlak, namun merupakan acuan untuk mengetahui tinggi atau rendahnya kadar zat gizi suatu PJAS, karena nilainya dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain komposisi bahan, kualitas bahan yang digunakan dan cara pengolahannya. Agar dapat lebih menjawab kebutuhan pengguna akan akses informasi yang cepat dan praktis dan mempermudah penggunaan pedoman tersebut, maka Badan POM mengembangkannya dalam bentuk aplikasi yang diberi nama Ayo Cek Gizi Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS). Aplikasi “Ayo Cek Gizi PJAS” disediakan dalam dua versi yaitu versi Desktop dan Android.

Read more: Aplikasi Ayo Cek Gizi Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS)

KEGIATAN IMPLEMENTASI REGULASI PANGAN OLAHAN TERKAIT PEMBACAAN LABEL

Label pada pangan olahan merupakan salah satu bentuk edukasi dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Diharapkan konsumen akan mendapatkan informasi yang benar dan jelas tentang kandungan produk, baik secara kualitas maupun kuantitas, sebelum dibeli atau dikonsumsi melalui label. Pelaku usaha bertanggung jawab terhadap semua informasi yang dicantumkan pada label pangan olahan dan pencantumannya harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa masih rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang label dan rendahnya tingkat kepatuhan konsumen dalam membaca label. Hasil kajian Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), pada tahun 2007 menunjukkan bahwa hanya 6,7% konsumen di Indonesia yang memperhatikan label pada produk pangan kemasan untuk memilih produk pangan tersebut. Penelitian lain menunjukan bahwa konsumen merasa kesulitan untuk menginterpretasikan informasi yang tercantum pada label. Beberapa konsumen merasa bingung dengan format pelabelan gizi dan umumnya lebih menyukai dengan informasi berupa gambar.

Read more: Kegiatan Implementasi Regulasi Pangan Olahan Terkait Pembacaan Label

Intensifikasi Komunikasi dalam Rangka Penerapan Standar dibidang Pangan

Merupakan acara yang rutin setiap tahun dilakukan oleh Direktorat Standardisasi Produk Pangan. Tahun 2015, kegiatan dilakukan di Aula Gedung C pada tanggal 11 Mei 2015 yang dihadiri oleh perwakilan 1 (satu) orang staf di bidang Pengujian Pangan dan Mikrobiologi atau dibidang Pemeriksaan dan Penyidikan dari Balai/ Balai Besar POM se-Indonesia.

  • Jumlah Peserta : ± 70 orang
  • Pembukaan https://www.viagrasansordonnancefr.com/sildenafil-generique-avis-citrate/ : Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya
  • Moderator : Direktur Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya
  • Pembukaan disampaikan oleh Bapak Deputi III, dengan arahan sebagai berikut: dalam membaca regulasi harus satu kesatuan regulasi jangan hanya pasal per pasal saja dan harus mengetahui maksud dari peraturan tersebut dan harus menimbulkan persepsi yang sama. Kegiatan ini merupakan awal kegiatan yang baik dan dapat dilakukan secara nasional khususnya untuk regulasi-regulasi terbaru. Kadang-kadang antar unit pun tidak mengatahui adanya regulasi terbaru yang sudah dikeluarkan. Pak Deputi berharap acara ini juga bertujuan untuk menyamakan persepsi dalam membaca dan memahami regulasi. Sangat diharapkan peserta dapat aktif dalam kesempatan ini, silahkan keluarkan segala uneg-uneg atau pertanyaan yang mengganjal dan mari bersama untuk menyamakan persepsi dari regulasi-regulasi yang ada. Peraturan bukan merupakan kitab suci, jika memang kenyataannya sulit untuk diimplementasikan maka bisa direvisi pertauran tersebut. Sebagai contoh, jika belum ditetapkan regulasinya bukan berarti hal tersebut diperbolehkan, contohnya kasus melamin, standar/regulasi internasional belum ada yang mengatur, dan ini bukan berbarti diperbolehkan. Dalam menyusun regulasi, pasti melibatkan stakeholder seperti kementerian terkait, bahkan industri serta tim pakar Mitra Bestari. Pada kesempatan ini, Pak Deputi juga menyampaikan bahwa saat ini sedang proses merevisi PP 28 oleh karena itu, sangat diharapkan masukkan dari Balai/Balai Besar POM agar peraturan yang disusun bisa diimplementasikan.

    Read more: Intensifikasi Komunikasi dalam Rangka Penerapan Standar dibidang Pangan

You are here: Home Berita

Statistik Pengunjung

Hari ini 9

Minggu ini 51

Bulan ini 1317

Jumlah Pengunjung 11430

Halo BPOM

Cari Berita

Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account