Berita

Direktorat Standardisasi Pangan Olahan

Resistansi antimikrob (Antimicrobial resistance atau AMR) merupakan suatu keadaan dimana mikrob mampu untuk bertahan pada dosis terapi senyawa antimikroba, terutama antibiotik. AMR menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Beberapa organisasi dunia sudah melakukan kajian terhadap dampak AMR. Salah satunya adalah Uni Eropa, yang menyatakan bahwa diprediksi 25.000 pasien meninggal tiap tahunnya di EU karena infeksi bakteri yang resisten, pada level global diprediksi 700.000 orang/tahun meninggal karena infeksi bakteri yang resisten. Diperkirakan terdapat 10 juta kematian/tahun antara tahun 2015-2050, dengan angka rata-rata resistansi yang meningkat 40%, dan jumlah kejadian terbesar di Afrika dan Asia, masing-masing sebesar 4,1 dan 4,7 juta jiwa. Pada tahun 2016, World bank juga melakukan kajian terhadap dampak ekonomi dari AMR secara global.

Hasil kajian tersebut dipublikasi dalam laporan yang berjudul “Drug Resistant Infections: A Threat to Our Economic Future”. Berdasarkan kajian tersebut, Worldbank memprediksi, jika tidak dilakukan mitigasi segera, maka AMR akan mengakibatkan jumlah penduduk jatuh miskin akibat AMR diperikakan sebesar 28 juta orang, hasil peternakan global turun hingga 7,5%, biaya layanan kesehatan global meningkat hingga USD 1 milyar, jumlah ekspor global menurun hingga 3,8%. Sehingga perlu dilakukan upaya untuk menurunkan risiko AMR untuk menghindari potensi dampak yang akan datang

Di Indonesia, telah terdapat Peraturan Menko PMK No. 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional 2024-2027 terkait Pengendalian Resistansi Antimikrob menjadi dasar untuk pelaksanaan pengendalian resistansi antimikrob. Pasal 3 pada peraturan tersebut menyatakan bahwa:

  • Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Resistensi Antimikroba merupakan pedoman bagi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan mitra kerja dalam perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kebijakan pengendalian resistensi antimikroba.
  • RAN Pengendalian Resistensi Antimikroba bertujuan untuk meminimalkan muncul dan menyebarnya mikroba resisten, memastikan ketersediaan antimikroba yang aman, efektif, bermutu, dan terjangkau, serta penggunaan antimikroba secara bijak dan bertanggung jawab.

Pengendalian resistensi antimikroba yang meliputi aspek kesehatan masyarakat, kesehatan hewan (termasuk ikan), produk yang dikonsumsi masyarakat, dan kesehatan lingkungan melalui pendekatan One Health. One Health didefinisikan oleh organisasi dunia (FAO, OIE, WHO dan UNEP) sebagai pendekatan terpadu dan bersama yang bertujuan untuk menyeimbangkan dan mengoptimalkan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem secara berkelanjutan.

Di lingkungan produksi pangan olahan, AMR dapat terjadi akibat penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan ketentuan dan faktor lingkungan yang tercemar. Mengingat besarnya potensi AMR pada lingkungan produksi pangan, pengendalian pada pangan dilakukan secara bersama. Pengendalian AMR pada bahan baku Pangan Segar asal Hewan (PSAH), Pangan Segar asal Ikan (PSAI), dan Pangan Segar asal Tumbuhan (PSAT) sudah dilakukan oleh Kementeran/Lembaga yang berwenang di bidang pangan segar. Walaupun demikian, untuk mengantisipasi terdapatnya potensi penyebab AMR di lingkungan produksi pangan olahan, misalnya adanya dugaan residu antibiotik yang tahan terhadap proses pengolahan, BPOM menyusun pedoman tersebut untuk memitigasi risiko AMR di proses produksi pangan olahan. Tujuan Umum penyunan pedoman ini adalah: sebagai panduan untuk meminimalkan keberadaan residu antibiotik dan mikrob resistan terhadap antibiotik pada pangan olahan.

Pembahasan dalam rangka penyusunan pedoman tersebut telah sampai kepada tahapan konsultasi publik yang merupakan salah satu tahapan yang harus dilaksanakan dalam proses penyusunan peraturan. Workshop Rancangan Pedoman Mitigasi Risiko Keberadaan Residu Antibiotik dan Mikrob Resistan Antibiotik pada Pangan Olahan telah dilaksanakan pada hari Rabu, 18 Oktober 2023. tersebut Workshop dihadiri oleh 150 peserta yang terdiri dari pakar, Kementerian/Lembaga terkait, UPT BPOM, organisasi masyarakat, dan pemerintah daerah. Workshop tersebut bertujuan untuk konsultasi publik pedoman mitigasi Pedoman Mitigasi Risiko Keberadaan Residu Antibiotik  dan  Mikrob Resistan Terhadap Antibiotik pada Pangan Olahan sebagai  forum komunikasi antara Badan POM dengan pemangku kepentingan terkait agar tercapai persamaan persepsi sehingga pedoman ini dapat diimplementasikan.

Acara dibuka oleh Ibu Dra. Rita Endang, Apt, M.Kes  selaku Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan. Dalam pembukaannya, beliau menggarisbawahi bahwa pedoman ini diharapkan dapat diimplementasikan untuk produsen pangan olahan, produsen BTP, pengawas, serta penyuluh keamanan pangan olahan dalam rangka meminimalisir AMR pada pangan olahan. Diharapkan melalui workshop ini dapat memperoleh masukan yang dapat digunakan untuk menyempurnakan rancangan pedoman yang ada.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan paparan Rancangan Pedoman Mitigasi Risiko Keberadaan Residu Antibiotik  dan  Mikrob Resistan Terhadap Antibiotik pada Pangan Olahan oleh Ibu Ketua Tim Standardisasi dan Pengkajian Bahan Tambahan Pangan, Bahan Penolong, Kemasan, Cemaran dan Cara Ritel Pangan yang Baik, Ibu Dra. Deksa Presiana, Apt., MKes. Dalam presentasinya, beliau menyampaikan outline dari pedoman tersebut, faktor risiko AMR, kemudian langkah mitigasi yang dapat dibagi menjadi dua sisi, yaitu sisi pencegahan keberadaan residu antibiotik serta pencegahan kontaminasi mikrob resistan terhadap antibiotik pada pangan olahan. Peserta memberikan apresiasi terhadap rancangan pedoman ini. Melalui workshop ini, diperoleh beberapa masukan dari tim ahli, K/L lain serta pelaku usaha. Namun demikian  stakeholder terkait masih dapat memberikan masukan secara tertulis terhadap Rancangan Peraturan Badan POM tentang Perubahan Atas Peraturan Badan POM Nomor 13 Tahun 2020 tentang Bahan Tambahan Pangan Perisa disampaikan kepada Direktorat Standardisasi Pangan Olahan sampai dengan tanggal 30 November Jam 16.00 WIB. Selanjutnya acara ini ditutup oleh Ketua Tim Standardisasi dan Pengkajian Bahan Tambahan Pangan, Bahan Penolong, Kemasan, Cemaran dan Cara Ritel Pangan yang Baik.

Kunjungi Kami

Jl. Percetakan Negara No.23,
Jakarta Pusat, 10560

Get Direction
Hubungi Kami

Telp: (+6221) 42875584
Fax: (+6221) 42875780

Whatsapp: (+62) 813 9968 1126
Email: standarpangan@pom.go.id
Jadwal Konsultasi

Senin - Kamis: 08.00 - 16.00

Jadwal Akses E-Standar Pangan

Senin - Jum'at: 08.00 - 16.00

Jadwal Submission E-Standar Pangan

Senin - Kamis: 08.00 - 12.00


--------------------------------

Instagram
Facebook
Youtube
Spotify